abbanderangnge Page's | http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html

http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html 2017-12-13 20:45:45 http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html 2017-12-13 20:45:45 http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html 2017-12-13 20:45:45 http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html 2017-12-13 20:45:45 http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html 2017-12-13 20:45:45 http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html 2017-12-13 20:45:45 http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html 2017-12-13 20:45:45

Kota Bandar Lampung Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Kota Bandar Lampung (Aksara Lampung: Kota Bandar Lampung aksara Lampung.png) adalah sebuah kota di Indonesia sekaligus ibukota dan kota terbesar di Provinsi Lampung. Bandar Lampung juga merupakan kota terbesar dan terpadat ketiga di Pulau Sumatera setelah Medan dan Palembang menurut jumlah penduduk, serta termasuk salah satu kota besar di Indonesia dan Kota terpadat di luar pulau Jawa. Secara geografis, kota ini menjadi pintu gerbang utama pulau Sumatera, tepatnya kurang lebih 165 km sebelah barat laut Jakarta, memiliki andil penting dalam jalur transportasi darat dan aktivitas pendistribusian logistik dari Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya. Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah daratan 169,21 km² yang terbagi ke dalam 20 Kecamatan dan 126 Kelurahan dengan populasi penduduk 1.166.761[6] jiwa (berdasarkan data tahun 2015), kepadatan penduduk sekitar 8.316 jiwa/km² dan diproyeksikan jumlah penduduk mencapai 2,4 juta jiwa pada tahun 2030. Saat ini kota Bandar Lampung merupakan pusat jasa, perdagangan, dan perekonomian di provinsi Lampung. Sejarah Benteng di Teluk Betung (1894). Zaman Prakemerdekaan Indonesia Wilayah Kota Bandar Lampung pada zaman kolonial Hindia Belanda termasuk wilayah Onder Afdeling Telokbetong yang dibentuk berdasarkan Staatsbalat 1912 Nomor : 462 yang terdiri dari Ibukota Telokbetong sendiri dan daerah-daerah disekitarnya. Sebelum tahun 1912, Ibukota Telokbetong ini meliputi juga Tanjungkarang yang terletak sekitar 5 km di sebelah utara Kota Telokbetong (Encyclopedie Van Nedderland Indie, D.C.STIBBE bagian IV). Ibukota Onder Afdeling Telokbetong adalah Tanjungkarang, sementara Kota Telokbetong sendiri berkedudukan sebagai Ibukota Keresidenan Lampung. Kedua kota tersebut tidak termasuk ke dalam Marga Verband, melainkan berdiri sendiri dan dikepalai oleh seorang Asisten Demang yang tunduk kepada Hoof Van Plaatsleyk Bestuur selaku Kepala Onder Afdeling Telokbetong. Pada zaman pendudukan Jepang, kota Tanjungkarang-Telokbetong dijadikan shi (Kota) di bawah pimpinan seorang shichō (bangsa Jepang) dan dibantu oleh seorang fukushichō (bangsa Indonesia). Zaman Pascakemerdekaan Indonesia Pawai Pembangunan Kota Bandar Lampung tahun 1940-an, saat ini di Jalan Kartini. Sejak zaman Kemerdekaan Republik Indonesia, Kota Tanjungkarang dan Kota Telokbetong menjadi bagian dari Kabupaten Lampung Selatan hingga diterbitkannnya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1948 yang memisahkan kedua kota tersebut dari Kabupaten Lampung Selatan dan mulai diperkenalkan dengan istilah penyebutan Kota Tanjungkarang-Telukbetung. Secara geografis, Telukbetung berada di selatan Tanjungkarang, karena itu di marka jalan, Telukbetung yang dijadikan patokan batas jarak ibukota provinsi. Telukbetung, Tanjungkarang dan Panjang (serta Kedaton) merupakan wilayah tahun 1984 digabung dalam satu kesatuan Kota Bandar Lampung, mengingat ketiganya sudah tidak ada batas pemisahan yang jelas. Pada perkembangannya selanjutnya, status Kota Tanjungkarang dan Kota Telukbetung terus berubah dan mengalami beberapa kali perluasan hingga pada tahun 1965 setelah Keresidenan Lampung dinaikkan statusnya menjadi Provinsi Lampung (berdasarkan Undang-Undang Nomor : 18 tahun 1965), Kota Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang-Telukbetung dan sekaligus menjadi ibukota Provinsi Lampung. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1983, Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung (Lembaran Negara tahun 1983 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3254). Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 tahun 1998 tentang perubahan tata naskah dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II se-Indonesia yang kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Walikota Bandar Lampung nomor 17 tahun 1999 terjadi perubahan penyebutan nama dari “Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung” menjadi “Pemerintah Kota Bandar Lampung” dan tetap dipergunakan hingga saat ini. Hari Jadi Kota Bandar Lampung Hari jadi kota Bandar Lampung ditetapkan berdasarkan sumber sejarah yang berhasil dikumpulkan, -terdapat catatan bahwa berdasarkan laporan dari Residen Banten William Craft kepada Gubernur Jenderal Cornelis yang didasarkan pada keterangan Pangeran Aria Dipati Ningrat (Duta Kesultanan) yang disampaikan kepadanya tanggal 17 Juni 1682 antara lain berisikan: “Lampong Telokbetong di tepi laut adalah tempat kedudukan seorang Dipati Temenggung Nata Negara yang membawahi 3.000 orang” (Deghregistor yang dibuat dan dipelihara oleh pimpinan VOC halaman 777 dst.)-, Berdasarkan Staabat Nomor : 10/1873 (Beslit Gouvenur General) tanggal 8 April 1873 nomor 15 tentang Pembagian Keresidenan Lampung menjadi 6 Afdiling TelokBetong dengan Ibukota TelokBetong (Sumber Buku Selayang Pandang Kota Bandar Lampung) dan hasil simposium Hari Jadi Kota Tanjungkarang-Telukbetung pada tanggal 18 November 1982 serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1983 tanggal 26 Februari 1983 ditetapkan bahwa hari Jadi Kota Bandar Lampung adalah tanggal 17 Juni 1682. Lambang Kota[7] Lambang resmi Kota Bandar Lampung Baru Lambang resmi Kota Bandar Lampung lama Logo atau lambang Kota Bandar Lampung memiliki makna membina persatuan dan kesatuan dengan penuh kesetiaan untuk mempertahankan dasar Negara Pancasila guna bersama-sama pewujudkan kota perdagangan dan jasa yang aman, nyaman, sejahtera, makmur, berbudaya, religius dan maju untuk Kesejahteraan, kemakmuran dan kejayaan Kota Bandar Lampung. Logo Kota Bandar Lampung berbentuk sebuah pita yang melingkar bersudut lima yang telah dimodifikasi sehingga terdapat lekuk garis pada sisi dan sudutnya, dibagian atas terdapat tulisan KOTA dan bagian bawah BANDAR LAMPUNG. Pada bagian dalam Logo Daerah, terdapat perisai bersudut lima yang telah dimodifikasi dengan membuat garis lengkung untuk menghubungkan antara sudut dengan sudut lainnya yang didalamnya terdapat gambar : Payung Raja yang terdiri dari 3 susun secara bertingkat Siger Gung/Talo Balak Jukung/Jung, Perahu khas Lampung dengan orang diatasnya tulisan RAGOM GAWI yang dilengkapi Aksara Lampung sebagai Moto Daerah Setangkai Padi dan Kapas Arti Lambang Kota Lambang atau logo kota Bandar Lampung bermakna : Membina persatuan dan Kesatuan dengan penuh kesetian untuk mempertehankan dasar negara Pancasial guna bersama mewujudkan kota perdagangan dan jasa yang aman dan tenteram sehingga tercapai keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan serta kejayaan yang abadi. Dari beberapa lambang yang tiap masing-masing lambang memiliki arti tersendiri. berikut ini adalah Arti dari lambang-lambang tersebut : A. Pita yang melingkar bergaris tepi hitam dan berwarna kuning emas Memiliki makna persatuan, kebesaran dan kejayaan. B. Perisai bersudut lima. Perisai bersudut lima dengan bagian atas berwarna putih, bagian bawah berwarna biru dan berlandaskan warna hitam memiliki makna Kota Bandar Lampung yang meliputi daratan dan lautan tegak berdiri diatas landasan yang teguh dan kokoh dengan masyarakat berwawasan luas dan berpedoman pada senggiri lampung yang telah mengakar yaitu, Pi’il Senggiri, Sakkai Sambayan, Nengah Nyappur, Nemui Nyimah dan Bejuluk Beadek. C. Payung Raja Tiga Tingkat Secara keseluruhan Payung Raja Tiga Tingkat bermakna Kota Bandar Lampung memegang teguh tiga tatanan sebagai pedoman hidup bermasyarakat yaitu hukum Agama, hukum Negara dan hukum Adat, tempat semua masyarakat Kota Bandar Lampung berlindung. secara detail simbol ini memiliki makna : Payung warna putih : sebagai simbol kepemimpinan/kepenyimbangan, kesucian jiwa, ketulusan dan keagungan, ketiganya telah terpateri dalam nilai-nilai keadatan suku Lampung Payung warna kuning : sebagai simbol berjiwa besar, berjiwa sosial berjiwa kemasyarakatan Payung warna merah : sebagai simbol sikap hidup dengan ketegasan berperilaku, berpikir dan bertindak dalam mengawal pi’il pesenggiri berpegang teguh pada tradisi dan hukum adat sebagai identitas orang Lampung. Jumlah ruas payung : warna putih 8 buah, warna kuning 17 buah, warna merah 19 buah dan ruas payung agung seluruhnya 45 buah melambangkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (17-8-1945) Satu bulatan pada puncak payung : bermakna satu cita membangun Daerah, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Ridho Tuhan Yang Maha Esa. D. Siger berwarna kuning emas Merupakan simbol mahkota yang melambangkan kebesaran, kemewahan, keagungan, berbudi pekerti dan berbudaya meskipun ditengah kota yang beragam etnis suku dan agama. Siger ditandai pada bagian muka dan belakang yang berlekuk beruji 9 buah. Ruji yang paling tengah merupakan paling tinggi, sedangkan yang paling pinggir melengkeng seperti ujung tanduk atau perahu. Lambang Siger ini menjadi simbolisasi sifat feminism, yang bermakna Kota Bandar Lampung menjadi “IBU” bagi masyarakatnya, yang mengayomi dan memakmurkan dengan kesuburan dan berbagai potensi yang berada dalam kendungannya, serta ramah terhadap setiap tamu serta para pendatang. E. Gung/Talo Balak Merupakan alat musik tradisional masyarakat Lampung berwarna emas melambangkan kebesaran dan kejayaan, bermakna sebagai masyarakat yang komunikatif dan informatif dimana senantiasa mengikuti perkembangan zaman namun tetap terkendali oleh norma norma agama, adat dan budaya bangsa. Gung/Talo Balak terbuat dari logam campuran (kuningan, tembaga dan besi) yang merupakan salah satu bagian dari unti musik kulintang/kelintang. F. Jukung/Jung Perahu khas Lampung dengan orang diatasnya dimaksudkan sebagai simbol sarana transportasi untuk melambangkan Kota Bandar Lampung sebagai kota perdagangan dan orang yang melambangkan jasa sehingga secara keseluruhan bermakna Kota Bandar Lampung sebagai sebuah kota yang menyediakan perdagangan dan jasa. Jukung/Jung merupakan alat angkut di perairan (laut dan sungai) untuk mengangkut orang atau barang. Dibuat dari kayu lumas yang disambung dengan papan memakai atap dan bercadik dari bambu, untuk menggerakkannya selain dengan pengayuh juga dengan tiang-tiang layar. G. Tulisan RAGOM GAWI merupakan motto daerah yang merupakan semboyan kerja yang bermakna bergotong royong, bekerjasama, bersatu padu dalam menggerakkan roda pembangunan dengan hati yang tulus ikhlas dan pantang menyerah dalam bekerja dan pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan Negara. Ragom Gawi merupakan motto daerah sebagai semboyan kerja. Secara linguistik cultural terdiri dari dua suku kata yaitu Ragom yang berarti kompak, bersatu, bersama-sama dan Gawi berarti kerja, melaksanakan tugas pengabdian. H. Setangkai Padi dan Kapas Bermakna sebagai simbol kesejahteraan yang bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur material dan spiritual berdasarkan Pancasila yang mengailhami setiap gairah pembangunan. Padi dan Kapas yang masing-masing berjumlah 17 (tujuh belas) dan 6 (enam) butir melambangkan hari dan tanggal kelahiran Kota Bandar Lampung (17-6-1682). Perubahan jumlah kecamatan Dengan Undang-Undang No. 5 tahun 1975 dan Peraturan Pemerintah No. 3 tahun 1982 tentang perubahan wilayah, maka kota Bandar Lampung diperluas dengan pemekaran dari 4 kecamatan 30 kelurahan menjadi 9 kecamatan 58 kelurahan. Kemudian berdasarkan SK Gubernur No. G/185.B.111/Hk/1988 tanggal 6 Juli 1988 serta surat persetujuan Mendagri nomor 140/1799/PUOD tanggal 19 Mei 1987 tentang pemekaran kelurahan di wilayah kota Bandar Lampung, maka kota Bandar Lampung terdiri dari 9 kecamatan dan 84 kelurahan. Pada tahun 2001 berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No. 04, kota Bandar Lampung menjadi 13 kecamatan dengan 98 kelurahan. Lalu, pada tanggal 17 September 2012 bertempat di Kelurahan Sukamaju, diresmikanlah kecamatan dan kelurahan baru di wilayah kota Bandar Lampung sebagai hasil pemekaran sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2012 tentang Penataan dan Pembentukan Kelurahan dan Kecamatan. Kota Bandar Lampung menjadi 20 kecamatan dengan 126 kelurahan.[8] Adapun 7 kecamatan baru hasil pemekaran terdiri dari: Kecamatan Labuhan Ratu pemekaran dari Kecamatan Kedaton. Kecamatan Way Halim merupakan penyesuaian dari sebagian wilayah Kecamatan Sukarame dan Kedaton yang dipisah menjadi suatu kecamatan. Kecamatan Langkapura merupakan penyesuaian dari sebagian wilayah Kecamatan Kemiling dan Tanjungkarang Barat yang dipisah menjadi suatu kecamatan. Kecamatan Enggal pemekaran dari Kecamatan Tanjungkarang Pusat. Kecamatan Kedamaian pemekaran dari Kecamatan Tanjungkarang Timur. Kecamatan Telukbetung Timur pemekaran dari Kecamatan Telukbetung Barat. Kecamatan Bumi Waras pemekaran dari Kecamatan Telukbetung Selatan. Metropolitan Bandar Lampung Informasi lebih lanjut: Bandar Lampung Raya (Wilayah Metropolitan) Seiring perkembangannya, kecepatan pertumbuhan penduduk melonjak cukup tinggi sejak lima tahun terakhir. Pertumbuhan bahkan mencapai 1,1 persen per tahun, dengan penduduk Bandar Lampung yang membengkak dari 800.000 jiwa menjadi 1,2 juta jiwa[9], Hal itu mulai memicu pertumbuhan kota ini ke arah barat hingga Gedong Tataan; ke timur hingga Tanjung Bintang dan Bergen; serta ke utara hingga Kecamatan Natar. Pada tahun 1986-1989, Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum telah merancang konsep pengembangan Kota Bandar Lampung yang disebut Bandar Lampung and Surrounding Area (Blasa). Konsep ini meliputi Kecamatan Gedong Tataan, Natar, Tanjung Bintang, dan Katibung bagian utara. Di tahun 2015 Kota Bandar Lampung dan Kota Metro merupakan kawasan yang dipetakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) berpotensi sebagai area metropolitan, terkhusus dalam cetak biru Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) (Merak-Bakauheni-Bandar Lampung-Palembang-Tanjung Api Api) (WPS MBBPT).[10] Pemerintahan Patung Zainal Abidin Pagar Alam di jalan ZA Pagar Alam, Bandar Lampung. Peta kecamatan di Kota Bandar Lampung. Kota Bandar Lampung dipimpin oleh seorang wali kota. Saat ini, jabatan wali kota Bandar Lampung dijabat oleh Drs. H. Herman HN., M.M. dengan jabatan wakil wali kota dijabat oleh Yusuf Kohar. Wilayah kota Bandar Lampung dibagi menjadi 20 kecamatan dan 126 kelurahan: Teluk Betung Utara Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Timur Tanjung Karang Barat Tanjung Karang Pusat Tanjung Karang Timur Tanjung Senang Bumi Waras Enggal Kedamaian Kedaton Kemiling Labuhan Ratu Langkapura Panjang Rajabasa Sukabumi Sukarame Way Halim Walikota Sejak berdirinya dari tahun 1965 sampai saat ini Walikota Bandar Lampung secara berturut-turut adalah: Daftar Walikota Bandar Lampung dari masa ke masa[11] Nama Periode Sumarsono 1956 - 1957 H. Zainal Abidin Pagar Alam 1957 - 1963 Alimuddin Umar, SH 1963 - 1969 Drs. H. M. Thabrani Daud 1969 - 1976 Drs. M. Fauzi Saleh 1976 - 1981 Drs. Zulkarnain Subing 1981 - 1986 Drs. Nurdin Muhayat 1986 - 1995 Drs. Suharto 1995 - 2005 Drs. Eddy Sutrisno, M.Pd. 2005 - 2010 Drs. H. Herman H.N. 2010 - 2015 Drs. H. Herman H.N. 2016 - 2021 Perwakilan DPRD Kota Bandar Lampung 2014-2019 Partai Kursi Lambang PDIP PDI-P 10 Lambang PAN PAN 7 Lambang PKS PKS 5 Lambang NasDem Partai NasDem 5 Lambang Demokrat Partai Demokrat 5 Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 5 Lambang Partai Golkar Partai Golkar 5 Lambang Partai Persatuan Pembangunan PPP 4 Lambang Hanura Partai Hanura 2 Lambang PKPI PKPI 1 Lambang PKB PKB 1 Total 50 Sumber:Situs Resmi Pemkot Bandar Lampung Pada Pemilu Legislatif 2014, DPRD Kota Bandar Lampung adalah sebanyak 50 orang dan tersusun dari perwakilan sebelas partai.[12] Kependudukan Berdasarkan sensus BPS, kota ini memiliki populasi penduduk sebanyak 1.251.642 jiwa (sensus 2014)[13] [14], dengan luas wilayah sekitar 197,22 km2, maka Bandar Lampung memiliki kepadatan penduduk 8.316 jiwa/km² dan tingkat pertumbuhan penduduk 1,79 % per tahun. Berikut adalah tabel jumlah penduduk dari tahun ke tahun: Tahun 1971 1980 1990 2000 2008 2009 2010 2011 2013 2015 2030 Jumlah penduduk Green Arrow Up.svg 198.427 Green Arrow Up.svg 284.275 Green Arrow Up.svg 636.418 Green Arrow Up.svg 743.109 Green Arrow Up.svg 822.880 Green Arrow Up.svg 833.517 Green Arrow Up.svg 881.801 Green Arrow Up.svg 922.808 Green Arrow Up.svg 1.101.101 Green Arrow Up.svg 1.166.761 Green Arrow Up.svg 2.400.000 (perkiraan) Sejarah kependudukan kota Bandar Lampung Sumber:Badan Pusat Statistik [15][16]

http://archive.jos.web.id/halku-abbanderangnge.html List of Archived Articles from Client.ZUb4QfB7vT1ocHcsmsq465tqBjlnhdocXP8JUAiludzWl4kxp1uMXi7zrJHYMV2Fgzp31Xhp2BhG8r9Nmt2E4z9oDGHQ6dwe6Ga Client From Wikipedia in URL http://en.wikipedia.org/wiki/Client ZUb4QfB7vT1ocHcsmsq465tqBjlnhdocXP8JUAiludzWl4kxp1uMXi7zrJHYMV2Fgzp31Xhp2BhG8r9Nmt2E4z9oDGHQ6dwe6Ga Client(s) or The Client may refer to: Client (computing), hardware or software that accesses a remote service on another computer. Customer or client, a recipient of goods or services in return for monetary or other valuable considerations. Client, in the system of patronage in ancient Rome, an individual protected and sponsored by a patron. Client state, which is economically, politically, or militarily subordinate to another more powerful stateZUb4QfB7vT1ocHcsmsq465tqBjlnhdocXP8JUAiludzWl4kxp1uMXi7zrJHYMV2Fgzp31Xhp2BhG8r9Nmt2E4z9oDGHQ6dwe6Ga

0dc95fd8cc91157cebdb138a53818dbd http://if A to rename to date is2017-12-13rchive.jos.web.id/hif A to rename to date is2017-12-13lku-if A to rename to date is2017-12-13bbif A to rename to date is2017-12-13nderif A to rename to date is2017-12-13ngnge.html List of Archived Articles from Client.ZUb4QfB7vT1ocHcsmsq465tqBjlnhdocXP8JUAiludzWl4kxp1uMXi7zrJHYMV2Fgzp31Xhp2BhG8r9Nmt2E4z9oDGHQ6dwe6Gif A to rename to date is2017-12-13 Client From Wikipediif A to rename to date is2017-12-13 in URL http://en.wikipediif A to rename to date is2017-12-13.org/wiki/Client ZUb4QfB7vT1ocHcsmsq465tqBjlnhdocXP8JUAiludzWl4kxp1uMXi7zrJHYMV2Fgzp31Xhp2BhG8r9Nmt2E4z9oDGHQ6dwe6Gif A to rename to date is2017-12-13 Client(s) or The Client mif A to rename to date is2017-12-13y refer to: Client (computing), hif A to rename to date is2017-12-13rdwif A to rename to date is2017-12-13re or softwif A to rename to date is2017-12-13re thif A to rename to date is2017-12-13t if A to rename to date is2017-12-13ccesses if A to rename to date is2017-12-13 remote service on if A to rename to date is2017-12-13nother computer. Customer or client, if A to rename to date is2017-12-13 recipient of goods or services in return for monetif A to rename to date is2017-12-13ry or other vif A to rename to date is2017-12-13luif A to rename to date is2017-12-13ble considerif A to rename to date is2017-12-13tions. Client, in the system of pif A to rename to date is2017-12-13tronif A to rename to date is2017-12-13ge in if A to rename to date is2017-12-13ncient Rome, if A to rename to date is2017-12-13n individuif A to rename to date is2017-12-13l protected if A to rename to date is2017-12-13nd sponsored by if A to rename to date is2017-12-13 pif A to rename to date is2017-12-13tron. Client stif A to rename to date is2017-12-13te, which is economicif A to rename to date is2017-12-13lly, politicif A to rename to date is2017-12-13lly, or militif A to rename to date is2017-12-13rily subordinif A to rename to date is2017-12-13te to if A to rename to date is2017-12-13nother more powerful stif A to rename to date is2017-12-13teZUb4QfB7vT1ocHcsmsq465tqBjlnhdocXP8JUAiludzWl4kxp1uMXi7zrJHYMV2Fgzp31Xhp2BhG8r9Nmt2E4z9oDGHQ6dwe6Gif A to rename to date is2017-12-13

aHR0cDovL2FyY2hpdmUuam9zLndlYi5pZC9oYWxrdS1hYmJhbmRlcmFuZ25nZS5odG1sIExpc3Qgb2YgQXJjaGl2ZWQgQXJ0aWNsZXMgZnJvbSBDbGllbnQuWlViNFFmQjd2VDFvY0hjc21zcTQ2NXRxQmpsbmhkb2NYUDhKVUFpbHVkeldsNGt4cDF1TVhpN3pySkhZTVYyRmd6cDMxWGhwMkJoRzhyOU5tdDJFNHo5b0RHSFE2ZHdlNkdhIENsaWVudCBGcm9tIFdpa2lwZWRpYSBpbiBVUkwgPGEgcmVsPSdub2ZvbGxvdycgaHJlZj0naHR0cDovL2VuLndpa2lwZWRpYS5vcmcvd2lraS9DbGllbnQnPmh0dHA6Ly9lbi53aWtpcGVkaWEub3JnL3dpa2kvQ2xpZW50PC9hPiBaVWI0UWZCN3ZUMW9jSGNzbXNxNDY1dHFCamxuaGRvY1hQOEpVQWlsdWR6V2w0a3hwMXVNWGk3enJKSFlNVjJGZ3pwMzFYaHAyQmhHOHI5Tm10MkU0ejlvREdIUTZkd2U2R2EgQ2xpZW50KHMpIG9yIFRoZSBDbGllbnQgbWF5IHJlZmVyIHRvOiBDbGllbnQgKGNvbXB1dGluZyksIGhhcmR3YXJlIG9yIHNvZnR3YXJlIHRoYXQgYWNjZXNzZXMgYSByZW1vdGUgc2VydmljZSBvbiBhbm90aGVyIGNvbXB1dGVyLiBDdXN0b21lciBvciBjbGllbnQsIGEgcmVjaXBpZW50IG9mIGdvb2RzIG9yIHNlcnZpY2VzIGluIHJldHVybiBmb3IgbW9uZXRhcnkgb3Igb3RoZXIgdmFsdWFibGUgY29uc2lkZXJhdGlvbnMuIENsaWVudCwgaW4gdGhlIHN5c3RlbSBvZiBwYXRyb25hZ2UgaW4gYW5jaWVudCBSb21lLCBhbiBpbmRpdmlkdWFsIHByb3RlY3RlZCBhbmQgc3BvbnNvcmVkIGJ5IGEgcGF0cm9uLiBDbGllbnQgc3RhdGUsIHdoaWNoIGlzIGVjb25vbWljYWxseSwgcG9saXRpY2FsbHksIG9yIG1pbGl0YXJpbHkgc3Vib3JkaW5hdGUgdG8gYW5vdGhlciBtb3JlIHBvd2VyZnVsIHN0YXRlWlViNFFmQjd2VDFvY0hjc21zcTQ2NXRxQmpsbmhkb2NYUDhKVUFpbHVkeldsNGt4cDF1TVhpN3pySkhZTVYyRmd6cDMxWGhwMkJoRzhyOU5tdDJFNHo5b0RHSFE2ZHdlNkdh

Contact US archive.jos.web.id:

Contact US archive.jos.web.id is +62 8953 7923 4639

Link Post and Page archive.jos.web.id:

Patner archive.jos.web.id:

(c) 2016 - 2017 archive.jos.web.id